Akhmad Mahmud
Artikel

Membangun Website Personal yang Tahan Lama

Catatan teknis dan filosofis tentang memilih teknologi untuk website personal yang harus hidup lebih lama dari pembuatnya.

2 menit baca393 kata#teknologi#web#longevity#markdown

Sebagian besar website mati muda. Hosting habis, framework di-deprecate, database tidak bisa direstore, atau pembuatnya kehilangan minat. Tulisan ini catatan tentang bagaimana saya memilih stack untuk situs ini supaya bisa hidup lama — idealnya ratusan tahun, selama internet masih ada.

Prinsip dasar: data outlives application

Aplikasi (framework, hosting, platform) akan berubah. Yang tidak boleh berubah adalah data. Karena itu, sumber kebenaran konten situs ini bukan database, bukan CMS, bukan layanan cloud — melainkan berkas Markdown di repositori Git.

content/artikel/2026/09/13-judul.md
content/resensi/2026/judul-buku.md
content/jurnal/2026/cuplikan.md
content/portofolio/nama-proyek.md

File teks biasa. Dibuka pakai cat. Tidak perlu tool khusus. Tidak perlu versi runtime tertentu. Inilah pondasi yang paling tahan lama.

Pilihan teknologi

LapisanPilihanAlasan
Format kontenMarkdown + frontmatter YAMLStabil sejak 2004, dukungan universal
Version controlGit + GitHubStandar de facto, mirror-able
FrameworkNext.js (static export)Populer, mudah diganti
HostingVercel HobbyGratis, otomatis, bisa dipindah
Domain.my.idMurah, resmi, lama

Kuncinya: setiap pilihan di atas bisa diganti tanpa kehilangan data. Kalau Vercel bangkrut? Pindah ke GitHub Pages. Kalau Next.js kehilangan dukungan? Tulis ulang view layer-nya dalam framework lain. Kontennya tetap.

Yang sengaja dihindari

Situs ini tidak menggunakan:

  • Database (PostgreSQL, MySQL, SQLite) — file teks lebih portabel
  • CMS / admin panel — cukup git commit dan push
  • Login / autentikasi — attack surface nol
  • Komentar native — bisa pakai Giscus kalau nanti perlu
  • Analytics / tracking — privasi pembaca diutamakan
  • Image processing server-side — gambar (jika ada) pakai storage eksternal

Pengalaman: STB sebagai mirror

Salah satu pilihan menarik adalah menggunakan STB (Set-Top Box) bekas sebagai cadangan. STB berbasis ARM dengan Armbian + Docker bisa menjadi:

  • Git mirror lokal — backup repo jika GitHub bermasalah
  • Cron backup — snapshot tar.gz setiap jam
  • Emergency static host — jika Vercel down, STB bisa serve build terakhir

Tidak ada DB di STB. Hanya plain text + Git. Konsisten dengan filosofi utama: data outlives application.

Catatan tentang umur digital

Kalkulasi sederhana: kalau saya menulis 4 artikel per bulan dengan rata-rata 10 KB per artikel, butuh ~2.185 tahun untuk mencapai soft warning GitHub (1 GB). Itu lebih lama dari umur kebanyakan negara modern. Kunci kepanjangan umur situs bukan di teknologi — di disiplin menulis dan struktur yang sederhana.

Lihat juga tulisan terkait di /jurnal/mengapa-saya-menulis-ulang.

Ditulis oleh Akhmad Mahmud pada . Konten dilisensikan di bawah CC BY 4.0.