Membangun Website Personal yang Tahan Lama
Catatan teknis dan filosofis tentang memilih teknologi untuk website personal yang harus hidup lebih lama dari pembuatnya.
Sebagian besar website mati muda. Hosting habis, framework di-deprecate, database tidak bisa direstore, atau pembuatnya kehilangan minat. Tulisan ini catatan tentang bagaimana saya memilih stack untuk situs ini supaya bisa hidup lama — idealnya ratusan tahun, selama internet masih ada.
Prinsip dasar: data outlives application
Aplikasi (framework, hosting, platform) akan berubah. Yang tidak boleh berubah adalah data. Karena itu, sumber kebenaran konten situs ini bukan database, bukan CMS, bukan layanan cloud — melainkan berkas Markdown di repositori Git.
content/artikel/2026/09/13-judul.md
content/resensi/2026/judul-buku.md
content/jurnal/2026/cuplikan.md
content/portofolio/nama-proyek.md
File teks biasa. Dibuka pakai cat. Tidak perlu tool khusus. Tidak
perlu versi runtime tertentu. Inilah pondasi yang paling tahan lama.
Pilihan teknologi
| Lapisan | Pilihan | Alasan |
|---|---|---|
| Format konten | Markdown + frontmatter YAML | Stabil sejak 2004, dukungan universal |
| Version control | Git + GitHub | Standar de facto, mirror-able |
| Framework | Next.js (static export) | Populer, mudah diganti |
| Hosting | Vercel Hobby | Gratis, otomatis, bisa dipindah |
| Domain | .my.id | Murah, resmi, lama |
Kuncinya: setiap pilihan di atas bisa diganti tanpa kehilangan data. Kalau Vercel bangkrut? Pindah ke GitHub Pages. Kalau Next.js kehilangan dukungan? Tulis ulang view layer-nya dalam framework lain. Kontennya tetap.
Yang sengaja dihindari
Situs ini tidak menggunakan:
- Database (PostgreSQL, MySQL, SQLite) — file teks lebih portabel
- CMS / admin panel — cukup
git commitdan push - Login / autentikasi — attack surface nol
- Komentar native — bisa pakai Giscus kalau nanti perlu
- Analytics / tracking — privasi pembaca diutamakan
- Image processing server-side — gambar (jika ada) pakai storage eksternal
Pengalaman: STB sebagai mirror
Salah satu pilihan menarik adalah menggunakan STB (Set-Top Box) bekas sebagai cadangan. STB berbasis ARM dengan Armbian + Docker bisa menjadi:
- Git mirror lokal — backup repo jika GitHub bermasalah
- Cron backup — snapshot tar.gz setiap jam
- Emergency static host — jika Vercel down, STB bisa serve build terakhir
Tidak ada DB di STB. Hanya plain text + Git. Konsisten dengan filosofi utama: data outlives application.
Catatan tentang umur digital
Kalkulasi sederhana: kalau saya menulis 4 artikel per bulan dengan rata-rata 10 KB per artikel, butuh ~2.185 tahun untuk mencapai soft warning GitHub (1 GB). Itu lebih lama dari umur kebanyakan negara modern. Kunci kepanjangan umur situs bukan di teknologi — di disiplin menulis dan struktur yang sederhana.
Lihat juga tulisan terkait di /jurnal/mengapa-saya-menulis-ulang.